preloader
  Back   

PERSAINGAN ROHANI

"Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama dan mereka berkata: Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak muzijat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan merampas tempat suci serta bangsa kita" (Yohanes 11:47-48)


     Hidup tanpa persaingan adalah suatu keniscayaan. Segala bidang kehidupan mengalami persaingan. Ada yang bersaing secara sehat namun tidak sedikit yang bersaing secara kotor: dengan cara-cara haram demi mencapai tujuan dan keunggulan dengan cara menjelek-jelekkan, bahkan mematikan pihak lain yang dianggap saingannya. 

      Kita bisa menerima dan memaklumi  dalam dunia sekuler atau di market place terjadi persaingan dalam segala hal demi kelangsungan hidup. Namun, kita tentu akan heran dan sulit bisa menerima jika persaingan dalam arti  negatif terjadi di dunia rohani atau pelayanan sesama tubuh Kristus. Tentu dalam dunia pelayanan kita akan lebih elegan jika pelayanan bukan didasarkan pada sikap persaingan, tetapi upaya untuk memberi yang terbaik bagi Tuhan. Melalui pelayanan yang maksimal kepada jemaat dan sesama, kita melakukan seperti untuk Tuhan. Kita mau terus mengingat, bahwa semua pelayanan adalah bagi dan berpusat pada Tuhan. 

     Roma 11:36 mengingatkan: "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia; Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya". Juga sebagai sesama tubuh Kristus, Roma 12:5 berkata: "Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus, tetapi kita masing -masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain". 

     Dari nats injil Yohanes 11:47-48, kita dapatkan pelajaran rohani yang penting namun tidak patut kita contoh dari sikap imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Mereka adalah kaum rohaniwan yang sangat terhormat di masyarakat waktu itu dan kaum Farisi yang sangat ketat dalam menjaga tradisi hukum Taurat. Namun, mereka terjebak dengan sikap iri hati dan dengki pada sosok Yesus Kristus yang begitu luar biasa dan dahsyat dalam  pengajaran dan pelayanan-Nya bagi banyak orang. Ayat ini dicatat setelah Yesus membangkitkan Lazarus. Mukjizat itu begitu besar sehingga para pemimpin agama tidak dapat menyangkali lagi akan kuasa ilahi Yesus. Peristiwa itu menggemparkan masyarakat waktu itu dan hal ini membuat sakit hati, iri hati dan  merasa  sangat tersaingi oleh Yesus sehingga ingin meyingkirkan-Nya.
     
      Mengapa para tokoh agama itu sangat membenci Yesus dan ingin menyingkirkan-Nya padahal  Yesus memberikan  dan mengajarkan kebenaran dan menolong begitu banyak orang yang mengalami belenggu dan kelemahan baik fisik dan rohani? 

      Mereka takut kehilangan pamor.
Para imam dan orang Farisi khawatir jika semakin banyak orang mengikuti Yesus, maka posisi mereka sebagai pemimpin rohani dan masyarakat akan terganggu. Mereka takut kehilangan pengaruh, jabatan, kekuasaan, kehilangan kontrol terhadap jemaatnya, daripada mengutamakan kebenaran Allah.

      Mereka takut pada penguasa.
Pada saat itu bangsa Yahudi di bawah kekuasaan Romawi. Jika banyak orang mengikut Yesus dan mengakui Yesus sebagai Mesias atau raja orang Yahudi, maka para imam-imam kepala dan orang-orang Farisi takut dianggap memberontak terhadap kekaisaran Romawi, dan kehilangan legalitas oleh penguasa Romawi.

      Mereka mengeraskan hati terhadap kebenaran. Mereka menyaksikan mukzijat Yesus dan pengajaran akan berita Kerajaan Allah dan ajakan untuk bertobat. Namun, mereka mengeraskan hati 
akan hal itu. Mereka merasa dengan kedudukannya yang  terhormat  tidak lagi  memerlukan pertobatan dan merasa sudah menjadi orang benar  karena menjalankan dengan ketat tradisi hukum Taurat dan sebagai orang pilihan Allah karena menjadi keturunan Abraham secara fisik.

     Bagaimana dengan kondisi kekristenan saat ini? Kita melihat banyak gereja dengan bendera  denominasinya, terjebak dalam persaingan yang tidak sehat lagi. Ada yang saling menjelekkan di atas mimbar, mempengaruhi jemaat dengan iming-iming kenyamanan  dan fasilitas atau pengajaran yang instan. Ada yang menyerang gereja lain, baik  secara langsung maupun tidak langsung, bersikap dingin terhadap gereja lain di luar denominasinya dan tidak ada simpati dan empahti dengan kondisi gereja lain yang lemah dst. Banyak terjadi gereja meninggikan nama denominasinya lebih tinggi daripada meninggikan nama Yesus Kristus. Sungguh mengerikan kondisi kekristenan di akhir jaman. Mari kita tidak terjebak dalam persaingan rohani baik secara internal maupun ekternal, wassalam. (B.E)

Share