preloader
  Back   

STANDAR BARU DALAM MENGASIHI

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi"
(Yohanes 13:34)


Perintah untuk mengasihi sesama sebenarnya sudah ada sejak Perjanjian Lama. Namun, perintah ini menjadi baru karena Tuhan Yesus memberikan standar yang baru. Tuhan Yesus menaikkan standar mengasihi sesama, bukan lagi seperti mengasihi diri sendiri (Imamat 19:18), melainkan mengasihi sama seperti cara Tuhan Yesus mengasihi kita. Kasih seperti apa itu?

Pertama, Kasih yang rela mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:7).
Dari bahasa Yunani "kenoo", yaitu kerelaan untuk melepaskan segala hak, ego, dan kepentingan pribadi demi memberikan diri sepenuhnya dan totalitas.

Kedua, Kasih yang melayani. Kasih Agape, kasih yang tulus. Menjadikan kasih sebagai dasar dalam melayani sesama tanpa pamrih (Roma 12:9-10).

Ketiga, Kasih yang rela berkorban. Seperti Kristus yang rela mati di kayu salib, untuk menebus dosa-dosa kita (Roma 5:8).

Kita tidak bisa mempraktikkan standar kasih dalam Yohanes 13:34 jika kita sendirian di kamar atau mengikuti ibadah hanya melalui ibadah online. Sebab kasih memerlukan objek dan adanya interaksi.

Kita perlu masuk ke dalam sebuah komunitas Kristen yang benar seperti Cell Group, melayani pekerjaan Tuhan di gereja, datang ibadah secara onsite. Sebab dengan berada di dalam komunitas seperti itu pasti ada yang namanya gesekan antara sesama anak Tuhan. Namun, di situlah fungsi "saling" yaitu saling mengampuni saat terluka, saling menegur dengan kasih saat melakukan kesalahan, dan saling menopang satu sama lain saat jatuh. Dengan kata lain, komunitas Kristen adalah "laboratorium" tempat kasih itu diuji.

Perintah baru dalam hal mengasihi adalah sebuah panggilan bagi kita untuk mati bagi diri sendiri. Setiap kali kita memilih untuk mengampuni, melayani, dan mengutamakan orang lain di dalam komunitas Kristen, kita sedang melakukan ketaatan atas perintah Kristus dan mengizinkan Yesus hidup dan menyatakan diri-Nya melalui perkataan, tindakan, sikap dan tingkah laku kita.

Mengasihi berarti siap membuka diri untuk disakiti dan dikecewakan, namun memutuskan tetap memilih untuk mengampuni, mendoakan, dan memberkati orang tersebut.

Budayakan Membaca, Merenungkan dan Melakukan Firman Tuhan setiap hari [Yosua 1:8]. (DYTM)

Share